Laut Mati vs Danau Galilea

“Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.”

— Amsal 11:24-25 (TB)

Di Tanah Perjanjian, terdapat dua buah danau besar yang dialectiri oleh aliran Sungai Yordan yang sama: Danau Galilea dan Laut Mati. Walaupun keduanya menerima pasokan air dari sumber yang identik, sifat dan keadaan kedua perairan ini sungguh bertolak belakang. Perbedaan ini memberikan sebuah gambaran spiritual yang sangat mendalam bagi perjalanan iman hidup kita sehari-hari.

Danau Galilea adalah perairan yang penuh dengan kehidupan. Di sana, berbagai jenis ikan berkembang biak dengan subur, pepohonan hijau tumbuh rindang di sekelilingnya, dan airnya memberikan kesegaran bagi penduduk sekitarnya. Mengapa Danau Galilea begitu hidup? Karena danau ini tidak hanya menerima air dari Sungai Yordan, tetapi juga terus mengalirkannya kembali keluar menuju wilayah-wilayah di selatannya. Danau Galilea menjadi gambaran dari jiwa yang mau memberi dan menyalurkan setiap keberkatan.

Sebaliknya, Laut Mati adalah perairan yang asin, pekat, dan sama sekali tidak memiliki tanda-tanda kehidupan. Tidak ada ikan yang dapat bertahan hidup di dalamnya, dan tanah di sekitarnya pun gersang. Penyebabnya sangat sederhana: Laut Mati terus-menerus menerima aliran air segar dari Sungai Yordan, tetapi ia tidak pernah mengalirkannya keluar. Semua air berhenti dan tergenang di sana. Laut Mati menjadi cerminan nyata dari hidup yang hanya ingin menerima, menimbun, dan berfokus pada diri sendiri.

Kehidupan rohani kita sering kali seperti kedua tempat ini. Tuhan senantiasa mencurahkan rahmat, rezeki, kedamaian, dan bakat ke dalam hidup kita setiap hari. Namun, pertanyaannya adalah: tipe perairan manakah hidup kita? Apakah kita menjadi seperti Laut Mati yang menyimpan semuanya hanya untuk kepentingan pribadi hingga akhirnya rohani kita menjadi gersang dan mati? Ataukah kita memilih menjadi seperti Danau Galilea yang dengan sukacita mengalirkan kembali kasih dan kebaikan Tuhan kepada sesama?

Ketika kita berani berbagi dan menjadi saluran berkat, hidup kita tidak akan pernah kekurangan. Sebaliknya, Tuhan akan terus memercayakan kelimpahan agar kita dapat terus memberkati.

Doa:

Tuhan Yesus, terima kasih atas aliran kasih dan berkat-Mu yang tidak pernah putus dalam hidup kami. Ajarilah kami untuk tidak menjadi pribadi yang egois, melainkan mampukan kami untuk selalu mengalirkan kebaikan-Mu bagi sesama, sehingga hidup kami membawa kehidupan dan kemuliaan bagi nama-Mu. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *